ReviewReviewReviewKokodaAug 31, '06 9:02 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure


Judul: Kokonda
Produksi: Palace Film, Australia, 2006
Sutradara: Alister Grierson
Skenario: Alister Grierson & John Lonie
Pemeran: Christopher Baker, Ben Barrack, Angus Sampson
Genre: Drama, Perang, Action
Durasi: 104 menit



Sinopsis

            Pedalaman rimba kawasan utara Papua Nugini 1942, satu peleton dari batalyon 39 Australia Imperial Force yang miskin pengalaman dan perlengkapan tempur harus berhadapan dengan satuan elit bala tentara kolonial Jepang, Detasemen Laut Selatan, dalam jumlah yang 10 kali lipat lebih banyak. Musuh bergerak cepat, bersiap mengambil-alih Port Moresby sebagai batu loncatan untuk menganeksasi Australia.

            Setelah dicabik-cabik oleh sergapan musuh dan kerasnya alam, peleton itu terpisah dari pasukan induknya. Terisolasi di kelebatan rimba dan dihantui desingan peluru sniper-sniper musuh. Dalam perang rimba seperti itu, tiap belukar, pohon, atau gundukan tanah adalah tempat persembunyian potensial bagi musuh untuk mengendap dan mengintai. Jadi, berondonglah apapun yang terlihat bergerak, menembak sebelum tertembak. Dan saat satu per satu dari mereka berjatuhan diterjang pelor panas, kepemimpinan sang letnan pun diragukan.

            Tiga hari tiga malam terseok-seok tanpa makan dan tidur sembari terus menggotong rekan yang terluka, didera malaria dan disentri, peleton kecil itu dalam keletihannya yang teramat akhirnya menembus kelebatan hutan dan mencapai sebuah permukiman: Desa Isuvara. Tapi semua itu ternyata cuma untuk kembali mendapati kenyataan bahwa desa itu telah dikepung dan di ambang penyerbuan gelombang besar musuh. Tak banyak pilihan di saat begitu kecuali kembali memanggul senapan, mencari posisi, dan bersiap bertaruh nyawa menghadang musuh.


Komentar

            Nonton film Australia adalah sebuah kesempatan yang langka buat saya. Seingat saya, adalah sekuel Mad Max (1979-1985), dan Crocodile Dundee (1986-2001), atau Gallipoli (1981) adalah sangat sedikit film Australia yang sempat saya tonton. Itupun sebenarnya sekuel terakhir masing-masing seri dibuat oleh produsen dan sineas Amerika. Padahal Negeri Kangguru itu sebenarnya terhitung tetangga dekat yang mestinya bisa lebih dimungkinkan untuk memperkenalkan karya-karya para sineasnya di sini. Karenanya, saat beberapa waktu lalu seorang kawan yang dijadualkan melakukan perjalanan bisnis ke Australia menawari oleh-oleh, saya memintanya untuk mencarikan DVD film buatan Australia. Kalau bisa yang baru dan ngetop di sana, serta genre-nya action agar bisa ditonton oleh lebih banyak teman di sini. Nah, pas membongkar oleh-olehnya dan mendapati DVD film berjudul Kokoda, jelas saya excited. Dari sekilas melihat sampul DVD itu, kontan saya berkomentar, "Tumben ada film action perang dari Australia. Emangnya Australia pernah perang beneran?" Pasalnya, setahu saya, perang-perang yang pernah dilakoni tentara Australia, terutama pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II, ada di bawah bendera Inggris karena kewajibannya sebagai warga commonwealth. Selebihnya adalah operasi-operasi militer di bawah payung Pasukan Keamanan PBB atau bagian dari kesertaan mereka aliansi pertahanan regional.

            Kokoda sebenarnya adalah nama sebuah kota kecil di Propinsi Oro, di kawasan pantai utara Papua Nugini. Namanya jadi populer lantaran di sanalah untuk pertama kalinya bala tentara kolonial Jepang semasa Perang Dunia di Pasifik dikalahkan oleh tentara "baju coklat bercelana pendek" Australia. Jadi, bisa dibilang, barangkali saat itulah satu-satunya peristiwa di mana Australia benar-benar berperang, baku bunuh untuk mempertahankan dirinya.

            Seusai ditonton, jujur saja film ini jelas bukan tandingan bagi Saving Private Ryan, The Blackhawk Down, We Are Soldiers, atau The Band of Brothers. Kokoda jelas bukan film epik perang, ia lebih mirip film horor. Horor yang meneror para prajurit Australia itu yang bisa dibilang tak pernah melihat dengan jelas tentara Jepang yang harus dibidiknya, tapi tahu-tahu satu per satu dari mereka berjatuhan, bergelimpangan diterjang pelor musuh.

            Ada satu hal yang sebenernya cukup bingung mereka yang nonton film ini. Pasalnya, film ini memang nggak jelas ujung-pangkalnya. Tanpa ada sedikitpun bak bik buk soal ada, di mana, dan mengapa kisah ini berdomain. Penonton didamparkan begitu saja dalam kisah peperangan yang bisa jadi sama sekali tidak dikenali setting situasinya.




12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dneuva wrote on Aug 31, '06
sepertinya ceritanya bagus ya mas andreas. film ini keluar di movie sana?
andreasap wrote on Aug 31, '06
Film ini sendiri kabarnya baru dirilis di Australia April 2006 lalu dan cukup fenomenal karena muncul di tengah menguatnya semangat anti-perang dan kesertaan pasukan Australia dalam "pasukan perdamaian" di Afganistan, Irak, dan tentu saja di bawah payung Interfet di Timor Timur.
dneuva wrote on Aug 31, '06
o gitu, tapi yg aku tanya apa film ini keluar di movie sana (tanah air)?
andreasap wrote on Aug 31, '06
dneuva said
apa film ini keluar di movie sana
Hahahahahaha...
Are you kidding?
Cicak-cicak di dinding...

terlalu kecil kemungkinannya kalo distribusi film masih dimonopoli kayak sekarang
dneuva wrote on Aug 31, '06
alasannya apa kecil kemungkinannya muncul? wong bagus gituh
andreasap wrote on Aug 31, '06
dneuva said
alasannya apa kecil kemungkinannya muncul?
Pertimbangan sang distributor sering kali tidak sejalan pada apa yang kita apresiasi sebagai "bagus". Bagus dalam definisi mereka lebih merujuk pada seberapa banyak rupiah yang bisa dialirkan ke kocek mereka sebuah film dibeli hak tayangnya di sini. Prinsipnya tentu dengan biaya serendah-rendahnya dan dengan berlipat-lipat keuntungan. Coba hitung aja sendiri seberapa banyak film kelas festival film dunia --sebut saja Oscar dan jangan terburu-buru menyebut Sundance Film Festival, atau Festival Film Berlin, London, Toronto, dan sebagainya -- yang sempat terpasang posternya dan ditayangkan di sini. Bahkan film-film Bollywood yang pernah berjaya di kalangan tertentu di sini saja bisa dibilang cuma hitungan jari yang nangkring di Cineplex dalam setahun.
udintpi wrote on Aug 31, '06
dunia bioskop kita kan dikuasai mafia hollywood, sebagaimana negeri kita secara gak langsung. jadi untuk nonton film alternatif memang mesti rajin menyambangi bentara budaya, tuk, atau british council dan sebangsanya.
tapi indonesia memang lucu, dulu di TVRI banyak film Aussie yang ditayangin dan sukses. masih ingat Return to Eden, atau The Young Ramsay. lumayan segar, karena mata kita tak didikte intrik model hollywood terus, sudah gitu pemandangannya ciamik.
andreasap wrote on Aug 31, '06, edited on Aug 31, '06

Komentar Udin sebagai mantan pengunjung Bioskop Dian (yang sekarang sudah berubah menjadi tempat futsal itu) tak sedikitpun perlu dikoreksi
udintpi wrote on Aug 31, '06
btw bioskop dian yang dimana bos?
andreasap wrote on Aug 31, '06
udintpi said
bioskop dian yang dimana bos?
Itu lho bioskop ber-HTM Rp 2500 di Jalan Sunda, yang jadual pemutaran filmnya selalu telat 2-3 minggu ketimbang BIP 21 yang ber-HTM Rp 5000 waktu itu.
udintpi wrote on Aug 31, '06
waduh gw gak pernah nonton disitu, mayestic dong yang full pelem panasssss..
andreasap wrote on Aug 31, '06
udintpi said
mayestic dong yang full pelem panasssss
pasti karena AC-nya mati!
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help