Tak Bisa Lagi Menangisi Minyak Tanah Habis
Agaknya riwayat kompor minyak tanah memang akan segera benar-benar berakhir, atau dpaksa harus berakhir. Program pencabutan subsidi minyak tanah dan konversi ke gas elpiji yang dijalankan pemerintah sejak tahun lalu itu sepertinya tak bisa ditawar-tawar lagi. Terlepas seberapa banyak protes dan kritik yang dilontarkan, atau banyak masalah seputar distribusi dan kualitas tabung dan kompor gas yang teriakkan berbagai kalangan. Bahkan warga Jakarta telah diultimatum bakal dihentikan pasokan minyak tanah bersubsidinya pada akhir April nanti. Selepas itu, kalaupun terpaksa masih menggunakan minyak tanah, harga pasti tak akan semurah sekarang. Minyak tanah nantinya bakal dijual di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) atau pom layaknya bensin dan solar, dengan harga bandrol tak kurang dari Rp 7 ribu per liter. Lantas, untuk wilayah Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi, “nasib” yang sama segera akan menyusul sekitar Agustus 2008 nanti. Dan pastinya, dalam hitungan bulan atau tahun, kebijakan serupa pasti akan segera diterapkan ke seluruh Indonesia.
Semua itu adalah bagian dari rencana pemerintah untuk mengkonversi atau mengubah penggunaan sekitar 5,2 juta kilo liter minyak tanah kepada penggunaan 3,5 juta ton gas elpiji hingga tahun 2010 mendatang yang dimulai dengan 1 juta kilo liter minyak tanah pada tahun 2007 lalu. Langkah itu diambil setelah penghapusan subsidi bensin dan solar, permintaan akan minyak tanah tidak memperlihatkan penurunan. Karena itu, salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi pemakaian minyak tanah. Sayangnya, rencana konversi kepada gas elpiji ini terasa mendadak dan tidak terencana secara komprehensif. Tak heran berbagai masalah dalam pelaksanaannya muncul seakan tiada henti.
Dan bagi banyak dari kita, semua itu mungkin terasa bagai mimpi buruk. Tambahan beban biaya di saat ekonomi sulit seperti sekarang. Rasa-rasanya masalah dan “penderitaan” yang mendera belum habis-habisnya mencekik. Memang ada pembagian secara gratis satu tabung elpiji 3 kilogram (beserta isi) serta satu set kompor elpiji satu tungku lengkap dengan selang dan regulatornya merupakan program pemerintah untuk menghemat penggunaan minyak tanah bagi masyarakat. Tapi jumlah yang dibagikan jelas terbatas. Pastinya tidak setiap rumah tangga bakal diberi kompor dan tabung gas gratis itu. Distribusi gratis jutaan tabung dan kompor gas itu diprioritaskan bagi warga masyarakat yang kurang mampu dan paling membutuhkan. Sekadar untuk perbandingan saja, untuk wilayah DKI Jakarta yang warganya tak kurang 12 juta jiwa, “hanya” dibagikan 1,5 juta tabung dan kompor gas. Tapi tunggu dulu, seperti banyak dikabarkan di media massa, ternyata ada banyak tabung dan kompor gratisan yang bermasalah. Mutu buruk: banyak yang mengeluhkan kebocoran yang menguatirkan bisa memicu kebakaran. Belum lagi soal rame-rame soal tidak terdistribusikannya tabung dan kompor gratis itu dengan adil. Atau soal oknum petugas yang meminta uang sebagai pengganti tabung dan kompor yang jelas dibagi mestinya cuma-cuma itu.
Pada praktiknya konvesi dari minyak tanah ke gas ini nyatanya memang tak semudah dan semurah yang diucapkan. Pertama, lantaran tidak semua orang bakal mendapatkan pembagian tabung dan kompor gratis, mau tak mau kalau ogah membeli minyak tanah dengan harga yang “selangit” haruslah siap merogoh kocek untuk membeli sendiri tabung dan kompor gas yang memadai sesuai kebutuhan. Harga sebuah kompor gas 2 tungku untuk kebutuhan rumah tangga misalnya di Jabotabek dan sekitarnya berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu tergantung kualitas dan merek. Lalu, tabung gas elpiji ukuran 12 kilogram harganya di pengecer baru saja naik awal Januari lalu menjadi sekitar Rp 450 ribu. Atau tabung gas ukuran 3 kilogram berwarna kuning seperti yang dibagikan kemarin-kemarin harganya berkisar Rp 110 ribu rupiah. Singkat kata, bagi mereka yang tidak kebagian jatah tabung dan kompor gratisan harus sesegera menyiapkan uang mininum sekitar Rp 300 ribu untuk bisa menjamin dapurnya bisa tetap ngebul.
Angka itu pastinya akan menjadi lebih tinggi lagi bagi kalangan usaha kecil menengah (UKM) makanan, baik produsen maupun penjaja yang dagangannya mengharuskan terlebih dulu dimasak sebelum dibeli oleh para konsumen. Minimal mereka harus membeli 2 buah paket tabung dan kompor gas. Masing-masing satu untuk di dapur rumahnya, dan satu lagi untuk di tempat usahanya. Malah bila ada kebutuhan yang berbeda atau lebih besar untuk memproses barang dagangannya, mau tak mau kocek harus dirogoh lebih dalam lagi
Apa mau dikata, investasi awal untuk membeli tabung dan kompor gas itu memang tidak murah. Tapi ini bukan lagi soal pilihan mana yang lebih murah antara penggunakan kompor bersumbu kain yang disulut minyak tanah atau tungku dengan nyala biru khas kompor gas. Memang, kemarin-kemarin sempat muncul keraguan soal itu: apakah memang benar memasak menggunakan tabung dan kompor gas lebih murah dan efisien ketimbang menggunakan kompor minyak tanah. Pemerintah pastinya, dan beberapa orang yang pernah serius lakukan percobaan mengukur tingkat ekonomi penggunaannya mengakui penggunaan kompor gas dihitung-hitung lebih murah sekian ribu rupiah. Tapi tetap saja ada tak orang yang meragukan dan membuktikan bahwa perhitungan itu salah. Bagi mereka, memasak dengan kompor gas dinilainya lebih mahal ketimbang apa yang selama ini mereka lakukan dengan minyak tanah, arang, atau kayu bakar.
Namun kabar terakhir soal tanggal pasti diakhirinya distribusi minyak tanah bersubsidi di sejumlah daerah telah mengubah semua itu. Sekarang pilihan bukan soal mana yang lebih murah saat digunakan untuk memasak, tapi apakah dalam jangka panjang masih akan dimungkinkan untuk tetap menggunakan kompor minyak tanah dengan harga eceran minyak tanah yang bisa dipastikan akan segera berlipat-lipat begitu subsidinya dicabut. Bayangkan saja misalnya apakah seorang penjual gorengan yang sekarang bisa banyak ditemui di pinggir jalan itu masih akan bisa tetap berjualan dan mendapat untung bila harga minyak tanah nantinya Rp 7 ribu per liter? Bila sekarang ia sudah mulai banyak dikeluhkan para pembeli lantaran singkong, bakwan, atau tahu gorengnya terus menciut ukurannya, apa jadinya nanti bila minyak tanah murah makin sulit diperoleh dan yang adapun harganya sudah sulit terbeli untuk bisa tetap menguntungkan bagi usaha? Wah, sungguh sulit dibayangkan.
Singkatnya, hari ini berganti ke tabung dan kompor gas bukan lagi soal pilihan, tapi sebuah keharusan yang mahal harganya. Untuk investasi awal membeli tabung dan kompor gasnya saja sudah cukup mahal bagi kebanyakan kita. Terlebih lagi di masa ekonomi sulit macam sekarang. Dengan tak adanya pilihan lain, mau tak mau, seberapa pun mahalnya kita memang harus “hijrah” ke tabung dan kompor gas. Kita memang tak bisa lagi menangis bila minyak tanah murah telah benar-benar habis. (AAP).