Mungkin momentumnya tidak terlalu pas. Hari ini bukan 1 Mei, Hari Buruh Internasional. Tapi barangkali di bawah inilah sajak Wiji Thukul almarhum yang paling saya sukai (selain penggalan bait terakhir puisi berjudul Peringatan, yaitu "Hanya ada satu kata: Lawan!"). Minggu depan, 26 Agustus 2007 nanti di Taman Ismail Marzuki bakal digelar kumpul-kumpul banyak kawan memperingati hari ulang tahun Wiji yang hingga kini masih hilang dan diyakini telah meninggal.
Perkenalan saya secara pribadi pada Wiji jelas tidak cukup dalam dan mempribadi. Pertama betemu dan ngobrol saat ia dan bersama sejumlah kawan bertandang ke kantor LBH Bandung di sekitar tahun 1991. Di masa itu LBH Bandung masih berkantor di kawasan Terusan Katamso dan terbilang cukup riuh sebagai rendesvouz point bagi banyak aktivis buruh, petani, mahasiswa dan lain-lain. Dan kalau tidak salah, waktu itu saya sempat diminta mengantarkannya untuk hadir dan membacakan sejumlah puisinya bagi para mahasiswa baru pada acara OSPEK di FISIP Unpad yang kala itu masih berlokasi di Dago Utara.
Pertemuan berikut-berikutnya banyak terjadi di Solo, Yogya, dan juga Jakarta. Baik saat bersama-sama meneriakkan jeritan suara hati sembari mengacungkan kepal kiri di jalanan, atau di suasana-suasana yang lebih informal.
Di tahun 1996, terutama usai peristiwa 27 Juli, suasananya memang lumayan mencekam bagi banyak kawan aktivis. Saya yang baru sekitar 3-4 bulan "menetap" di Jakarta dan memulai karir di sebuah majalah berita mingguan yang mereinkarnasi seusai dibredel, terbilang cukup aman. Tapi kabar dari kawan-kawan di Bandung sempat juga membuat hati jadi was-was. Beberapa kawan berusaha menyembunyikan banyak buku, selebaran, dan materi-materi publikasi yang kala itu terlarang dari kamar dan rumah kontrakan saya di Bandung. Pius Lustrilanang yang beberapa kali mampir dan menginap di rumah kontrakan kami itu dikabarkan hilang. Diculik. Banyak aktivis menghilang, hilang, dihilangkan, bersembunyi dan diburu oleh siluman-siluman yang namanya hanyalah akronim bahkan kerap anonim. Saya yang sebetulnya sudah agak berjarak dari aktivitas kawan-kawan diminta untuk tidak pulang ke Bandung atau ke Yogya karena situasinya masih rawan. Saya pun "patuh", sembari mencoba memberi makna pada kesibukan baru sebagai seorang jurnalis.
Berbulan-bulan pun berganti tahun, di tahun 1988 Budiman, Pius, dan banyak kawan lainnya terkabarkan secara pasti telah mengalami penghilangan secara paksa. Sedang Wiji Thukul bersama belasan nama lainnya diyakini telah tewas. Padahal kabar terakhir, sekitar 1-2 bulan sebelumnya seorang kawan mengabarkan Wiji masih bersembunyi di sekitar Tangerang.
Foto di atas diambil tak seberapa lama setelah ia dioperasi. Di tahun 1995 Wiji mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex, Solo. Begitulah Wiji sepengingatan saya. Rambutnya gimbal tak kenal shampo, Matanya mendelik, nyalang penuh api. Kepalan tinju Thukul gagah mengganyang udara. Tulang pipi, tulang rahang, dan tulang di dada Thukul membayang nyata. Thukul memang tak pernah gemuk, ia selamanya kecil dan kerempeng. Tapi di dinding hati banyak kita Wiji bak raksasa digdaya, perkasa menembus waktu.
================================
Sehari Saja Kawan

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan?
Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan
Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!
Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan
Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati
Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langit pun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati
Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!
(Wiji Thukul, 12-11-94)
