
| |
Tak Bisa Lagi Menangisi Minyak Tanah Habis Agaknya riwayat kompor minyak tanah memang akan segera benar-benar berakhir, atau dpaksa harus berakhir. Program pencabutan subsidi minyak tanah dan konversi ke gas elpiji yang dijalankan pemerintah sejak tahun lalu itu sepertinya tak bisa ditawar-tawar lagi. Terlepas seberapa banyak protes dan kritik yang dilontarkan, atau banyak masalah seputar distribusi dan kualitas tabung dan kompor gas yang teriakkan berbagai kalangan. Bahkan warga Jakarta telah diultimatum bakal dihentikan pasokan minyak tanah bersubsidinya pada akhir April nanti. Selepas itu, kalaupun terpaksa masih menggunakan minyak tanah, harga pasti tak akan semurah sekarang. Minyak tanah nantinya bakal dijual di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) atau pom layaknya bensin dan solar, dengan harga bandrol tak kurang dari Rp 7 ribu per liter. Lantas, untuk wilayah Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi, “nasib” yang sama segera akan menyusul sekitar Agustus 2008 nanti. Dan pastinya, dalam hitungan bulan atau tahun, kebijakan serupa pasti akan segera diterapkan ke seluruh Indonesia. Semua itu adalah bagian dari rencana pemerintah untuk mengkonversi atau mengubah penggunaan sekitar 5,2 juta kilo liter minyak tanah kepada penggunaan 3,5 juta ton gas elpiji hingga tahun 2010 mendatang yang dimulai dengan 1 juta kilo liter minyak tanah pada tahun 2007 lalu. Langkah itu diambil setelah penghapusan subsidi bensin dan solar, permintaan akan minyak tanah tidak memperlihatkan penurunan. Karena itu, salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi pemakaian minyak tanah. Sayangnya, rencana konversi kepada gas elpiji ini terasa mendadak dan tidak terencana secara komprehensif. Tak heran berbagai masalah dalam pelaksanaannya muncul seakan tiada henti. Dan bagi banyak dari kita, semua itu mungkin terasa bagai mimpi buruk. Tambahan beban biaya di saat ekonomi sulit seperti sekarang. Rasa-rasanya masalah dan “penderitaan” yang mendera belum habis-habisnya mencekik. Memang ada pembagian secara gratis satu tabung elpiji 3 kilogram (beserta isi) serta satu set kompor elpiji satu tungku lengkap dengan selang dan regulatornya merupakan program pemerintah untuk menghemat penggunaan minyak tanah bagi masyarakat. Tapi jumlah yang dibagikan jelas terbatas. Pastinya tidak setiap rumah tangga bakal diberi kompor dan tabung gas gratis itu. Distribusi gratis jutaan tabung dan kompor gas itu diprioritaskan bagi warga masyarakat yang kurang mampu dan paling membutuhkan. Sekadar untuk perbandingan saja, untuk wilayah DKI Jakarta yang warganya tak kurang 12 juta jiwa, “hanya” dibagikan 1,5 juta tabung dan kompor gas. Tapi tunggu dulu, seperti banyak dikabarkan di media massa, ternyata ada banyak tabung dan kompor gratisan yang bermasalah. Mutu buruk: banyak yang mengeluhkan kebocoran yang menguatirkan bisa memicu kebakaran. Belum lagi soal rame-rame soal tidak terdistribusikannya tabung dan kompor gratis itu dengan adil. Atau soal oknum petugas yang meminta uang sebagai pengganti tabung dan kompor yang jelas dibagi mestinya cuma-cuma itu. Pada praktiknya konvesi dari minyak tanah ke gas ini nyatanya memang tak semudah dan semurah yang diucapkan. Pertama, lantaran tidak semua orang bakal mendapatkan pembagian tabung dan kompor gratis, mau tak mau kalau ogah membeli minyak tanah dengan harga yang “selangit” haruslah siap merogoh kocek untuk membeli sendiri tabung dan kompor gas yang memadai sesuai kebutuhan. Harga sebuah kompor gas 2 tungku untuk kebutuhan rumah tangga misalnya di Jabotabek dan sekitarnya berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu tergantung kualitas dan merek. Lalu, tabung gas elpiji ukuran 12 kilogram harganya di pengecer baru saja naik awal Januari lalu menjadi sekitar Rp 450 ribu. Atau tabung gas ukuran 3 kilogram berwarna kuning seperti yang dibagikan kemarin-kemarin harganya berkisar Rp 110 ribu rupiah. Singkat kata, bagi mereka yang tidak kebagian jatah tabung dan kompor gratisan harus sesegera menyiapkan uang mininum sekitar Rp 300 ribu untuk bisa menjamin dapurnya bisa tetap ngebul. Angka itu pastinya akan menjadi lebih tinggi lagi bagi kalangan usaha kecil menengah (UKM) makanan, baik produsen maupun penjaja yang dagangannya mengharuskan terlebih dulu dimasak sebelum dibeli oleh para konsumen. Minimal mereka harus membeli 2 buah paket tabung dan kompor gas. Masing-masing satu untuk di dapur rumahnya, dan satu lagi untuk di tempat usahanya. Malah bila ada kebutuhan yang berbeda atau lebih besar untuk memproses barang dagangannya, mau tak mau kocek harus dirogoh lebih dalam lagi Apa mau dikata, investasi awal untuk membeli tabung dan kompor gas itu memang tidak murah. Tapi ini bukan lagi soal pilihan mana yang lebih murah antara penggunakan kompor bersumbu kain yang disulut minyak tanah atau tungku dengan nyala biru khas kompor gas. Memang, kemarin-kemarin sempat muncul keraguan soal itu: apakah memang benar memasak menggunakan tabung dan kompor gas lebih murah dan efisien ketimbang menggunakan kompor minyak tanah. Pemerintah pastinya, dan beberapa orang yang pernah serius lakukan percobaan mengukur tingkat ekonomi penggunaannya mengakui penggunaan kompor gas dihitung-hitung lebih murah sekian ribu rupiah. Tapi tetap saja ada tak orang yang meragukan dan membuktikan bahwa perhitungan itu salah. Bagi mereka, memasak dengan kompor gas dinilainya lebih mahal ketimbang apa yang selama ini mereka lakukan dengan minyak tanah, arang, atau kayu bakar. Namun kabar terakhir soal tanggal pasti diakhirinya distribusi minyak tanah bersubsidi di sejumlah daerah telah mengubah semua itu. Sekarang pilihan bukan soal mana yang lebih murah saat digunakan untuk memasak, tapi apakah dalam jangka panjang masih akan dimungkinkan untuk tetap menggunakan kompor minyak tanah dengan harga eceran minyak tanah yang bisa dipastikan akan segera berlipat-lipat begitu subsidinya dicabut. Bayangkan saja misalnya apakah seorang penjual gorengan yang sekarang bisa banyak ditemui di pinggir jalan itu masih akan bisa tetap berjualan dan mendapat untung bila harga minyak tanah nantinya Rp 7 ribu per liter? Bila sekarang ia sudah mulai banyak dikeluhkan para pembeli lantaran singkong, bakwan, atau tahu gorengnya terus menciut ukurannya, apa jadinya nanti bila minyak tanah murah makin sulit diperoleh dan yang adapun harganya sudah sulit terbeli untuk bisa tetap menguntungkan bagi usaha? Wah, sungguh sulit dibayangkan. Singkatnya, hari ini berganti ke tabung dan kompor gas bukan lagi soal pilihan, tapi sebuah keharusan yang mahal harganya. Untuk investasi awal membeli tabung dan kompor gasnya saja sudah cukup mahal bagi kebanyakan kita. Terlebih lagi di masa ekonomi sulit macam sekarang. Dengan tak adanya pilihan lain, mau tak mau, seberapa pun mahalnya kita memang harus “hijrah” ke tabung dan kompor gas. Kita memang tak bisa lagi menangis bila minyak tanah murah telah benar-benar habis. (AAP).
Coba tebak, mana yang anak kingkong? Hehehehe.
Kill the ‘HR Speak’ The bewildering array of meaningless terms builds a language wall between human resources and the rest of the business.
I can’t stand no longer to any “HR speak,” that convoluted language that HR consultants, vendors and professors love to create and use. Whether you call it HR speak, or HR blah blah or HR babble, once you bring up the term among executives, almost everyone immediately knows what you’re talking about. The HR profession has managed to create a bewildering array of meaningless terms. When you’re in the realm of HR strategy, it is nearly impossible to read an article or view a PowerPoint that isn’t littered with terms like “business partner,” “seat at the table,” “organizational alignment” or “balanced scorecard.” The organizational development function really seems to excel at making up words that follow the fad of the month. In fact, the term organizational development itself probably qualifies as one of the most impossible-to-define terms. In recent years, OD wordsmiths have enshrined themselves in the HR Speak Hall of Fame with terms like “engagement,” “corporate culture” and “360-degree performance review.” They are not alone, however. Training and development also excels at confusing managers and employees with terms like “learning organization,” “performance coaching,” “distance learning” and my all-time favorite, "competency management.” Every function within the HR profession deserves some level of credit for creating confusion. These terms often emerge when corporate leaders are fed up and want something different, a situation that can lead HR leaders to rebrand the same old approaches and tools under a different name: “talent management” becomes “human capital management,” for example. I’m very sure that I am not the first to accuse HR of using confusing jargon. A simple Google search can easily brings up thousands of comments from individuals complaining about HR speak and wanting to know what HR really means when it uses such phrases. Why is the proliferation of HR speak a problem? To begin with, it builds a language wall between us and the rest of the business. If you’ve ever sat with a CEO during executive committee meetings, you’ll note that most executives have a relatively limited vocabulary. It often includes “hard” and easily measurable words like “profit,” “stock price,” “ROI” and “market share.” Executives also use a quantifiable language, one which is primarily made up of numbers and dollars. HR practitioners, in contrast, use in their presentations and conversations “soft” terminology like “emotional intelligence,” “work/life balance” and “empowerment.” These are almost totally devoid of numbers and dollars. And because it so often amounts to Orwellian doublespeak, HR speak causes a great deal of anxiety and confusion among both managers and employees. Ask anyone who has ever been told by HR that the company was about to be “right-sized.” The proliferation of such jargon not only affects those whom HR serves, but also causes HR professionals to waste an inordinate amount of time just trying to reach agreement on what these terms actually mean. Can anyone agree on what distinguishes a “human capital management” approach from that of a traditional HR approach? Further, what differentiates the activities of “talent management” functions from traditional recruiting, staffing and talent development functions? The solution to this linguistic problem is pretty simple. First of all, we in HR need to make a conscious effort to use business terms exclusively. If we can’t find a word in an annual report or a financial statement, we shouldn’t use it, period. Next, we need to make every attempt to use not the most complex word, but instead, the most understandable word when dealing with managers and employees. So instead of saying “competencies,” we should simply say “skills.” We should aggressively challenge HR professionals who use HR speak, or demand that they clearly and measurably define each term. Finally, because the root of all these words is some kind of HR fad, HR professionals need to realize that their job is to increase the productivity, capability and innovation of the workforce. They should focus on the basics that contribute to these goals. When a vendor, consultant, speaker or professor from any renown universities and colleges tries to tell you that they have a “new” approach with a fancy new name, you should immediately stand up and walk out. Let them bounce their empty terms off an equally empty room.
 Mie Hijau Daging Sapi Cabe Merah Bahan Mie: | Tepung terigu berprotein tinggi (Cakra Kembar) | 1000 gram | | Garam | 20 gram | | Telur ayam | 2 butir | | Jus bayam | 260 gram | | Minyak Zaitun | 20 gram | Bahan Jus Bayam: | Air matang | 200 gram | | Daum bayam | 60 gram | Cara membuat: Daum bayam diblender dengan air, jangan sampai halus Cara membuat mie: 1. Semua bahan dicampur sampai adonan tercampur merata dengan konsistensi adonan berpasir, atau pera 2. Setelah itu dipres sampai ketebalan yang diinginkan 3. Siap dibentuk mie
Bumbu Sapi Cabe Merah: | Daging sapi cincang | 500 gram | | Lada hitam kasar | 20 gram | | Cabe merah iris tipis | 25 gram | | Bawang putih cincang | 30 gram | | Jahe cincang | 5 gram | | Kecap manis | 50 gram | | Saos tomat | 25 gram | | Gula pasir | 10 gram | | Penyedap | 8 gram | | Air kaldu ayam | 100 gram | Cara membuat bumbu: 1. Tumir bawang putih sampai harum 2. Masukkan daging dan bumbu yang lain 3. Masak hingga matang
Ada sesuatu yang menarik dengan cermin. Para pendongeng memahami kekuatan mereka untuk menangkap imajinasi anak-anak, untuk menuntun mereka masuk ke dalam dunia misteri. Kita memandang ke dalam cermin untuk menemukan siapa kita sebenarnya. Sang ratu dalam cerita Snow White meminta nasihat cerminnya untuk mencari penguatan gambar-dirinya. "Mirror, mirror, on the wall, who in the fairest one of the all?" Ketika sang ratu itu tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya, dalam suatu ledakan kemarahan ia membiarkan kecantikan yang dimilikinya hilang, dan berganti menjadi seorang nenek sihir tua yang jahat dengan sifat-sifat yang mengerikan. Begitulah yang muncul tiap kali membaca tulisan banyak kawan di blog masing-masing. Daya tarik tulisan-tulisan mereka yang beragam justru terletak pada konsistennya untuk menawarkan diri sebagai pembanding atas apa yang saya jalani dalam hidup ini. Sebuah cermin reflektif yang bisa ditatapi, untuk memeriksa dimensi yang lebih mendalam tentang siapa kita. Cermin yang membantu menemukan diri kita yang baru, baik dalam keterlukaan kita, maupun dalam potensi tersembunyi, yakni tujuan kita yang sebenarnya....
Reality is complex. To understand it, you have to keep some distance.



Source: La Diaria. The independent newspaper. Advertising Agency: Corporacion JWT, Montevideo. Copywriters: Leandro Gomez, Manuel Amorin Art Director: Leonardo Varela
Z, my daughter, really love to watch the animation series of "Dora The Explorer". She even have some item of merchandises of it, such as shoes, watch, socks, backpacks, T shirts, even panties. Well, that particular morning, when she's about to go to her school, suddenly she said, "Aku nggak mau jadi Dora lagi ah. Habis Dora nggak bisa berenang." Wek! How come she knew that Dora can't swim? And why that particular reason makes her out of blue see no more fun for Dora and her explorations?

Who says that porn can't get along with science?
 Wait a second, If nobody is perfect, than I am nobody...
Wow..., that sounds too weird

Kayaknya kalo yang kayak begini nggak nurun dari bapaknya... Yakinlah!

Seorang lelaki terlibat percakapan intens dengan sepotong kukunya sendiri. ''Aku sering menduga-duga, takdir apa gerangan yang akan terjadi setelah bertahun-tahun melekat di sini,'' kata kuku.
Lelaki itu menyahut, ''Kamu mungkin akan terpotong oleh penjepit, terbakar bersama sepotong kayu, atau membusuk seperti kayu. Ada banyak kemungkinan.''
''Oh, maaf, harusnya aku tak menanyakan pertanyaan bodoh itu. Aku tahu tak satupun dapat meramal masa depannya. Kecuali kemungkinan itu sendiri, semuanya serba tak pasti.''
Sepotong kuku itu pada akhirnya hanya bisa menunggu sampai ada orang yang lebih cerdas dan tak menakutkan datang kepadanya. Benarkah kita ingin tahu takdir kita atau bahkan yang kita alami saat ini?
She's the one and only my kind of warrior princess 
Kucing, Ikan Asin, dan Aku Wiji Tkuhul
seekor kucing kurus menggondol ikan asin laukku untuk siang ini aku meloncat kuraih pisau biar kubacok ia biar mampus
ia tak lari
tapi mendongak menatapku tajam
mendadak lunglai tanganku -aku melihat diriku sendiri!
lalu kami berbagi kuberi ia kepalanya (batal nyawa melayang) aku hidup ia hidup kami sama-sama makan
(14 Oktober 1996. Kumpulan Puisi: Baju Loak Sobek Pundaknya)

A little boy goes to his father and asks "Daddy, how was I born?"
The father answers, "Well son, I guess one day you will need to find out anyway.
Your mum and I got together in a chat room at Yahoo. Then I set up a date via e-mail with your mum and we met up at cyber-cafe. We sneaked into a secluded room, I upgraded my floppy disk to a stiffy and then your mum agreed to do a download from my hard drive.
As soon as I was ready to upload, we discovered that neither one of had used a firewall, and since it was too late to hit the delete button, nine months later, a blessed little pop-up appeared and said:
"You have got a Male."
Pengalaman teman kami ini membuat lidah kami berdecak. Ketika kami berkunjung ke kotanya, ia bercerita bahwa ketika kanak-kanak ia pernah bersepeda puluhan kilometer membelah sawah, kebun tebu dan hutan kecil yang sekarang menjadi lahan perumahan megah. Ia pun bercerita tentang kegiatan masa kecilnya, seperti mengeringkan daun, mengawetkan belalang dan kupu-kupu, membuat rumah burung, menyusun kliping, dan tak lupa membolos. Ketika remaja, pernah menjadi kenek truk hingga ke seberang pulau, membaca banyak buku dan sastra, bahkan sempat mencuri buku yang diidamkannya dari perpustakaan sekolah, menulis beberapa cerita dan puisi, takut berlatih silat meski banyak temannya adalah pendekar. Pernah juga berteman dengan pelukis, memainkan Bach, menjadi ofisial atlet cacat, memunguti ikan yang tercecer saat musim pemindahan ikan di tambak rakyat tiba, dan semua pengalaman lain yang sangat menarik disimak.
"Pengalamanmu kaya betul," ujar kami. "Tidak!" tukasnya. Sambil menatap keheranan ia melanjutkan, "Jangan salah sangka. Semua orang memiliki pengalaman yang sama kayanya. Hanya saja tidak semua orang mampu menghargai dan mengambil pelajaran darinya. Bila kau benar-benar terserap dalam setiap garis pengalaman hidupmu, kau akan sadari tiada satu pun yang sia-sia dalam hidup ini. Hidup ini terlalu cantik untuk diacuhkan. Bila kau merasa hidupmu hampa, itu karena kau tak menghargainya."
"Akhir pekan lalu," begitu kata seorang teman, "Kami berlibur ke luar kota dan bermalam di tempat yang sudah lama kami angankan. Udaranya sejuk. Pemandangannya luar biasa cantik. Apa yang kami lihat jauh lebih indah daripada yang kami bayangkan sebelumnya. Liburan yang benar-benar menyenangkan. Suatu saat cobalah kau berkunjung ke sana." Teman tadi terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan, "Namun, di saat pulang aku sadari, ternyata bagian terindah dari liburan ini adalah perjalanan kembali ke rumah."
Sejauh-jauh kita pergi, rumah adalah tempat kembali. Dari rumah jualah semestinya kita memulai. Banyak orang mencari ketentraman di luasnya dunia, namun yang dicari tergolek tak jauh dari sudut rumah sendiri. Mustahil kita temukan kedamaian di luar sana, sebelum tertanam di halaman rumah nurani. Dan, rumah terbaik adalah hati ini. Karenanya, mulailah dari hati, lalu kembalilah pada hati.
In an essay titled 'The Question Concerning Technology', Martin Heidegger writes: "But this much remains correct: Modern technology too is a means to an end. This is why the instrumental conception of technology conditions every attempt to bring man into the right relation to technology. Everything depends on our manipulating technology in the proper manner as a means. We will, as we say, 'get' technology 'intelligently in hand.' We will master it. The will to mastery becomes all the more urgent the more technology threatens to slip from human control."
SBY meluncurkan album. Isinya, biasa, lagu-lagu cinta yang meratap-ratap. Entah apa maksudnya? Multitasking? Ingin menunjukkan bahwa sebagai pemimpin ia juga bisa berkreasi secara artistik lebih dari sekadar berapresiasi? Ingin dianggap sebagai pemimpin yang beradab? Ingin tampak lebih "manusiawi? Ingin lebih ngetop? Ini memang bukan kali pertama para petinggi itu ingin ikut unjuk suara. Togar Sianipar yang inspektur jenderal polisi itu mencoba mengukuhkan "kabatakannya" dengan meluncurkan album. Wiranto semasa kampanye juga pernah meluncurkan album. Jauh sebelum itu Basofi Sudirman selagi jadi gubernur Jawa Timur merilis "Tak Semua Laki-laki". Belakangan ada beberapa nama lagi yang juga ikut-ikutan bernyanyi. Jangan tanya semerdu apa suara mereka, jangan tanya pitch control mereka. * Passport blogged earlier this month about Venezuelan president Hugo Chavez's own "All Time Hits" CD * Former Zambian President Kenneth Kaunda released an album last year at the age of 82 intended to help raise money for victims of HIV/AIDS * Chinese president-in- waiting Xi Jingping's wife is a well-known folk singer * During a trip last year to Graceland, Junichiro Koizumi decided to sing a few lines of Elvis Presley's "Love Me Tender" in front of reporters; the former Japanese PM even released his own "best of" album of Elvis selections in 2001 * In 1999, then-President Joseph Estrada of the Philippines released a ballad he sang accompanied by a 72-piece orchestra * Former South Korean President Kim Dae Jung used his vocal abilities in television ad spots designed to promote tourism in his country back in 1998 Let's just hope that Hillary Clinton doesn't get any ideas from all this singing.
"Thoughts reduced to paper are generally nothing more than the footprints of a man walking in the sand. It is true that we see the path he has taken, but to know what he saw on the way, we must use our own eyes." --Schopenhauer (then, what should we do about it?)
Martir Politik: Membela Hidup Korban di Negara Kriminal Oleh Patrisius Mutiara Andalas, S.J.
Gloria Dei, vivens homo; vanitas Dei, moriens homo Jon Sobrino, Jesus in Latin America (1987), 99
Realitas korban di satu sisi masif, namun di sisi lain anonim sampai saat ini. Ia menghilang dari teks kitab suci karena kita mengingkari keberadaannya sebagai skandal subversif. Ia juga menghilang dari ingatan sosial karena para pelaku kekerasan terhadap korban menghapus jejak mereka dari panggung sejarah. Komunitas beriman perlu membaca ulang kisah suci untuk menemukan kisah Allah kehidupan yang membebaskan hidup korban dari ancaman kematian prematur. Allah kehidupan (God of life) berkonfrontasi dalam duel hidup mati dengan illah-illah kematian (idols of death). Perjuangan melawan illah-illah kematian kontemporer yang melakukan tindak kriminal terhadap kemanusaian itu berlangsung sepanjang sejarah. Komunitas beriman terus-menerus digugat dengan pertanyaan dasar: Allah kehidupan atau illah kematian? Jon Sobrino, teolog pembebasan terkemuka dari El Salvador, hendak menjawab pertanyaan dasar itu dari tempat kejadian perkara pembantaian aktivis kemanusiaan karena kekerasan militer, dan dari lokasi rakyat miskin karena ketidakadilan struktural. Sobrino menggugat minimnya, bahkan absennya solidaritas komunitas beriman yang hidup di tengah-tengah realitas rakyat tersalib. Ia membangun spiritualitas pembebasan yang membela hidup korban di dunia kriminal. Spiritualitas pembebasan mengembalikan kata kasih dalam arti subversifnya. Salib bukan kata akhir dari Allah kehidupan. Spiritualitas dibangun di atas tiga pillar, yaitu kejujuran terhadap kebenaran realitas, kesetiaan kepada korban, dan keterbukaan terhadap realitas yang membimbing peziarahan sejarah.
Allah Kehidupan pada Salib Sejarah Jon Sobrino memandang penderitaan sebagai situasi de facto Dunia Ketiga dalam era globalisasi dan situasi de jure dalam kitab suci. Sobrino menghubungkan situasi penderitaan itu dengan harapan rakyat yang mengalami penderitaan akan kehidupan dan harapan Allah kehidupan akan keselamatan. Ia menghindari diskursus mengenai penderitaan yang terjebak di ruang-ruang buntu dolorisme dan asketisme. Ia juga menghindari diskursus mengenai pembebasan yang diceraikan dari realitas penderitaan. Ia menampilkan hidup beriman kepada Allah yang berangkat dari titik awal penderitaan konkrit dan bermuara pada praksis kasih yang liberatif terhadap rakya tersalib.[1] Tema penderitaan tersebar dalam kitab suci. Penderitaan karena tindak kriminal manusia lain mengabaikan Allah kehidupan dan mencederai kemanusiaan korban. Yesus dalam kitab suci agama kristiani menangkap realitas penderitaan korban dan mencari jalan untuk membebaskan mereka. Penguasa politik, agama, dan intelektual saat itu cenderung menggelapkan realitas penderitaan. Solidaritas dengan korban absen dari hidup publik. Yesus berada di sisi individu dan komunitas yang mengalami penderitaan. Dosa mengakibatkan individu dan komunitas duduk terpisah karena minoritas penghuni dunia yang rakus menendang keluar mayoritas warga demi menguasai meja perjamuan. Mereka bermetamorfose dari manusia menjadi serigala yang haus memburu domba.[2] Yesus mengembalikan kasih dalam arti subversifnya. Ia mewartakan pesan kasih kepada warga dunia yang digusur paksa dari meja perjamuan dan yang hidupnya berada dalam cengkeraman mulut serigala. Mayoritas warga dunia hidup dalam penderitaan karena dirampok paksa kekayaannya di tengah jalan kehidupan oleh mereka yang memeluk illah kematian. Mereka yang ditinggal di tepian jalan kehidupan dalam keadaan keadaan luka parah itu mengajukan pertanyaan mengenai cinta. Yesus membuka mata dan hatinya saat berjumpa dengan mereka. Ia tidak berlalu dari hadapan mereka. Sebaliknya ia berhenti, mendekati, mengobati luka-luka mereka, dan membawa mereka ke rumah penginapan terdekat untuk perawatan lebih lanjut dari tabib. Ia menampilkan Allah sebagai Pribadi yang mengasihi hidup korban.[3] Berbeda dengan para teolog dari Dunia Pertama yang membedah pembebasan (liberation) dalam relasi dengan kebebasan (freedom), Jon Sobrino mengembalikan pembebasan (liberation) dalam relasi primordialnya dengan kehidupan (life). Sobrino prihatin dengan rutinitas kita melafalkan kredo Allah kehidupan, namun mengingkari verifikasi historisnya. Pengingkaran terhadap Alllah kehidupan mengambil bentuk penciptaan illah-illah kematian kontemporer dan ritual penyembahannya. dan ritual Sobrino menarik diskusi mengenai berhala (idolatry) yang semula terbatas sebagai konsep teologi menjadi realitas antropologis. Ia menyingkap wajah Allah kehidupan dengan membongkar topeng illah-illah palsu ciptaan manusia yang mengingkari kehidupan dan memproduksi kematian (the divinities of death).[4] Yesus menampilkan realitas Allah kehidupan yang menumbuhkan kehidupan manusia. Ia berkonfrontasi dengan illah-illah kematian yang mengingkari Allah kehidupan dan mengangkangi kehidupan rakyat tersalib (the crucified people). Representasi illah-illah kematian itu tak sekedar hidup dalam habitat politik tetapi membiak dalam habitat agama. Yesus mengalami ekskomunikasi pertama dari hirarki agama. Mereka memaksa Yesus keluar dari sinagoga dan bait Allah, lokasi simbolik kehadiran Allah. Pengucilan terhadap Yesus memuncak dengan peristiwa Golgotha. Mereka menyalib Yesus dengan dakwaan utama menyebut diri sebagai Anak Allah. Yesus menanggalkan rasa aman, martabat, dan bahkan kehidupannya. Solidaritas dengan rakyat tersalib, bukan asketisme religius, mendorong Yesus untuk mengalami realitas salib sejarah. Ia menjadi korban kekerasan dalam bentuknya yang paling brutal, yaitu hidupnya dilucuti secara total di atas salib oleh representasi pemeluk berhala-berhala kematian.[5] Yesus wafat sebagai saksi setia dari kasih Allah kepada umat manusia yang mengalami salib-salib sejarah. Ia disalib bukan karena melawan ateisme dalam arti literal, melainkan berhala kematian.[6] Salib Yesus mengimplikasikan konsep baru dan revolusioner mengenai Allah baik pada level teoritis maupun pada level praksis. Salib Yesus mengalami pendangkalan dan kehilangan unsur skandal subversifnya karena komunitas beriman menempatkannya dalam ruang isolasi dari sejarah konkrit Yesus dan Allah. Yesus memanggul salib karena ia memeluk Allah kehidupan dan berkonflik melawan para penguasa politik dan agama yang memeluk illah-illah kematian. Allah kehidupan hadir dalam kematian Yesus di salib. Allah menunjukkan solidaritas dengan mereka yang memanggul salib-salib sejarah dengan salib Yesus. Allah menyingkapkan wajah kasih-Nya melalui salib penderitaan. Kita diundang untuk menemukan kehadiran Allah dalam manusia zaman ini yang memanggul salib-salib sejarah.[7] Kebangkitan Yesus menjadi idealistik tanpa salib. Kebangkitan- Nya menjadi real karena kita menghiraukan salib. Salib bukan kata akhir dari Allah kehidupan. Allah menanggapi tindakan kriminal manusia dengan membangkitkan Yesus. Peristiwa kebangkitan menggugat kita dengan pertanyaan mengenai apakah kita berpihak pada Allah kehidupan atau illah kematian. Kebangkitan Yesus menyodorkan pilihan solidaritas dengan komunitas korban atau apatisme terhadap gerombolan yang memproduksi kematian korban. Kebangkitan Yesus memberikan harapan kepada para korban yang disalib sejarah (the crucified of history) sebelum dan sesudah diri-Nya. Laki-laki dan perempuan mengalami kematian prematur melalui penghilangan, siksaan, pembakaran, atau penembakan paksa. Lebih banyak orang lagi mengalami kematian prematur perlahan karena struktur ketidakadilan. Pertanyaan yang senantiasa relevan diajukan kepada komunitas beriman Gereja menyangkut ke(tidak)sediaan mereka menyatukan diri dengan salib Yesus dan salib-salib sejarah kontemporer. [8] Penyaliban terhadap rakyat tersalib berganti wajah, namun penyaliban terus-menerus berlangsung menghilangkan wajah korban.[9]
Kesucian Korban Kriminalitas Negara Kisah Allah yang membela hidup korban yang memanggul salib sejarah merupakan inspirasi utama dalam membangun spiritualitas pembebasan. Berpangkal dari kisah para korban dalam teks Kitab Suci dan dalam konteks Amerika Latin, Sobrino mengajukan tiga pilar spiritualitas pembebasan. Pertama, kita jujur dengan kebenaran realitas. Ketidakadilan struktural mengunci kebenaran dengan kebohongan institusional. Belas kasih terhadap korban merupakan tanggapan jujur terhadap realitas penderitaan. Kedua, kesetiaan memperjuangkan hidup korban merupakan tanggapan positif terhadap kejujuran kita terhadap kebenaran realitas. Kasih kita tersalib karena ia terus-menerus berkonfrontasi dengan kekuasaan anti-kasih. Ketiga, kebenaran realitas membimbing kita dalam peziarahan sejarah. Kebenaran realitas menumbuhkan harapan dan memfasilitasi kasih.[10] Perjumpaan dengan realitas korban mendorong Jon Sobrino untuk berbicara mengenai kesucian hidup mereka. Sobrino menelurkan istilah kesucian primordial (the primordial saintliness) dalam diri komunitas korban. Kesucian primordial berbeda dengan kesucian keutamaan (the saintliness of virtue) yang dimiliki orang-orang kudus dalam Gereja Katolik. Kesucian primordial pertama-tama tampak dalam kehendak komunitas korban untuk (membela) hidup. Ia berbeda dengan kesucian keutamaan karena kesucian mereka tidak terarah pada keinginan agar orang lain meneladan mereka. Meskipun kita jarang sekali menjadikan mereka sebagai sosok teladan dalam kesucian, hidup mereka menghadirkan Allah dalam sejarah.[11] Jon Sobrino tak bermaksud mengecilkan orang-orang kudus yang telah mendapat kanonisasi dalam Gereja karena keteladanan hidup mereka. Ia menghindari elitisme kesucian dalam hidup Gereja. Ia berpaling kepada pribadi-pribadi biasa, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang tua, korban penyiksaan dan pembunuhan biadab, dengan kesucian primordial mereka karena sebagian besar dari mereka anonim baik dalam Gereja Katolik maupun masyarakat. Gereja Katolik menyebut pribadi-pribadi yang memiliki teladan keutamaan itu sebagai orang kudus. Ia belum memiliki nama yang memadai untuk mengekspresikan martabat kematian mayoritas rakyat biasa yang mengalami kematian prematur karena melawan kekerasan negara atau rezim otoriter. Memberiikan nama kepada para korban merupakan titik awal mengenali martabat kehidupan mereka. Sobrino mengusulkan sebutan “martir politik” sebagai usaha melawan pelupaan sosial dan eklesial. Realitas penderitaan korban, baik dalam kitab suci maupun dalam sejarah, mendorong Sobrino untuk berpikir ulang mengenai pemahaman tradisional kita tentang kemartiran. Gereja Katolik menggunakan sebutan martir untuk laki-laki dan perempuan yang mengalami penganiayaan dan kemudian kematian prematur demi membela iman. Pemahaman kemartiran tradisional itu masih mengesampingkan mereka yang mengalami penganiayaan dan kematian prematur bukan pertama-tama karena membela iman. Sobrino mengingat pribadi-pribadi sederhana, kebanyakan di luar hirarki Gereja, yang mengalami kematian prematur karena mereka solider dengan mereka yang miskin dan mengalami ketidakadilan. Martir politik adalah sebutan kontemporer yang sejatinya meneruskan tradisi kemartiran Yesus dalam kitab suci. Hirarki politik dan religius yang memeluk illah kematian membunuh Yesus karena Ia memeluk Allah kehidupan dan rakyat tersalib. Yesus menampilkan pribadi Allah yang mengutuk kedosaan dunia yang menyebabkan kematian prematur putera-puteri terkasih-Nya. Martir kontemporer berpartisipasi dalam realitas Allah secara aktif atau pasif. Mereka mengalami penderitaan bahkan kematian prematur di dunia kriminal. Penderitaan dan kematian prematur mereka mengekspresikan penderitaan dunia kita saat ini.[12]
Martir Politik di Negara Kriminal Jon Sobrino mendorong diskusi hidup beriman dalam dunia yang menderita selangkah lebih maju dengan tema kemartiran politik di negara kriminal. Ia menyodorkan fakta realitas korban yang di satu sisi massif dan anonim di sisi yang lain. Ia memberi nama pada fakta massif korban yang anonim. Kisah korban, betapapun massif, akan melesap dari perhatian masyarakat jika idenitas mereka anonim. Sobrino mengundang masyarakat, terutama hirarki agama, untuk membuka mata dan hati terhadap panggilan tak pernah kunjung henti dari rakyat tersalib. Beriman kepada Allah zaman ini berarti berkolaborasi dengan Allah kehidupan melawan kriminalitas negara. Konfrontasi dengan negara yang melakukan tindak kriminal terhadap warganya berlangsung di ruang politik. Berdiri jujur di hadapan realitas merupakan langkah pertama humanisasi korban. Negara kriminal senantiasa berusaha menggelapkan kebenaran dari dari publik. Jika gagal menutupi kriminalitasnya, ia akan melakukan kejahatan mutilasi terhadap kebenaran. Kebenaran disunat dan bagian kebenaran yang potensial membongkar wajah kriminal negara dihilangkan secara paksa. Negara sering mengeluarkan pernyataan resmi yang menganulir setiap kesaksian korban. Penjegalan terhadap realitas korban juga terjadi secara sistematis di ruang hukum. Konfrontasi sering memasuki periode kritis karena negara cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk membungkam suara korban dan mereka yang mendampingi korban. menanggapi konfrontasi para aktivis hak asasi manusia dengan cara kekerasan. Besarnya solidaritas dengan korban berbanding lurus dengan penderitaan mereka. Kita akan menjadi lebih manusiawi jika kita solider dengan penderitaan mereka. Sebaliknya negara semakin cenderung memakai cara-cara tak manusiawi untuk menghadang solidaritas kita dengan penderitaan korban. Membela hidup korban itu lebih dari sekedar menghindarkan korban dari kematian. Pembelaan terhadap hidup korban seringkali membawa kita pada situasi di mana kita harus bergumul sendiri dengan ancaman kematian prematur. Perjuangan membela hidup korban mensyaratkan kesetiaan. Para pembela kehidupan korban secara otomatis berkonfrontasi dengan pemeluk illah kematian. Illah kematian membutuhkan korban manusia untuk mempertahankan hidupnya. Perjuangan membela hidup korban itu mempertaruhkan hidup pembelanya. Kehidupan korban itu suci dan tindakan membela hidup mereka itu mengandung kesucian. Pembelaan terhadap hidup korban mengundang kita untuk memahami realitas Allah. Ia bukan sekedar prakis etis yang dituntut Allah, melainkan juga prakis yang menghantar kita kepada realitas Allah. Perjuangan membela hidup korban merupakan tindakan konkret iman kita kepada Allah. Pengalaman akan kesucian terjadi ketika mereka yang menyadari bahaya kehidupan kematian prematur terhadap hidup mereka tidak mundur membela hidup korban.[13]
Bibliografi:
Sobrino, Jon. Jesus in Latin America. Maryknoll, NY: Orbis Books, 1987.
________. Spirituality of Liberation: Toward Political Holiness. Maryknoll, NY: Orbis Books, 1989.
________. Where is God? Earthquake, Terrorism, Barbarity, and Hope. Maryknoll, NY: Orbis Books, 2004.
Sobrino, Jon and Ignacio Ellacuria. Eds. Systematic Theology: Perspectivas from Liberation Theology. Maryknoll, NY: Orbis Books, 2001.
---------- [1] Jon Sobrino, Jesus in Latin America (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1987), 159 – 162; Jon Sobrino, Christology at the Crossroads (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1987), 180; Jon Sobrino, Where is God? Earthquake, Terrorism, Barbarity, and Hope (Maryknoll, NY: Orbis Books, 2004), 64. [2] Jon Sobrino, ibid, 88 – 91.
[3] Ibid, 92 – 93.
[4] Ibid, 98 – 100.
[5] Ibid, 101 – 122.
[6] Ibid, 144.
[7] Jon Sobrino, Christology at the Crossroads, 182 – 229.
[8] Jon Sobrino, Christology at the Crossroads, 236 – 257; Jon Sobrino, “Central Position of the Reign of God in Liberation Theology,” in Systematic Theology: Perspectives from Liberation Theology, Edited by Jon Sobrino and Ignacio Ellacuría (Maryknoll, NY: Orbis Books, 2001), 41; Jon Sobrino, Jesus in Latin America, 148 – 158.
[9] Jon Sobrino, Where is God? Earthquake, Terrorism, Barbarity, and Hope, 70.
[10] Jon Sobrino, “Spirituality and the Following of Jesus,” in Systematic Theology: Perspectives from Liberation Theolog, 236 – 240; Jon Sobrino, Spirituality of Liberation: Toward Political Holiness (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1989), 13 – 22. [11] Ibid, 72.
[12] Ibid, 74 – 80; Jon Sobrino, Spirituality of Liberation, 87- 102.
[13] Jon Sobrino, Spirituality of Liberation, 103 – 114.
| |